12
Feb 12

Suku Dayak dan Kain Ikatnya

Suku Dayak dan Kain Ikatnya

Bagi perempuan Dayak, menenun merupakan kegiatan sambilan yang dikerjakan apabila mereka telah selesai berladang.
Kegiatan menenun dilakukan di serambi rumah. Yang mengerjakan juga hanya perempuan Dayak yang telah berusia tua. Hal ini disebabkan karena dalam mengerjakan tenun ikat yang rumit diperlukan pengalaman yang cukup matang. Bahkan ada suatu kepercayaan, apabila perempuan yang masih belum cukup umur menenun, perempuan itu akan pendek umur.
Tenun ikat yang telah jadi, dibuat berbagai macam pakaian, yaitu :

Pua

Merupakan kain tenun ikat yang dibuat sebagai selimut khusus untuk kaum laki-laki. Selain untuk selimut, Pua digunakan sebagai kain perlengkapan upacara adat yang digantung pada rumah adat, dan digunakan oleh para tabib untuk menyembuhkan orang sakit.
Ragam hias Pua kebanyakan berupa motif burung abstrak yang melambangkan roh lleuhur. Salah satu jenis Pua yaitu Pua Kombu, mengambil warna dasar kuning kemiri atau kuning karat besi.

Bidang

Merupakan kain sarung khusus untuk wanita yang ukurannya hanya setinggi lutut dengan lipatan di pinggang. Motif tenun ikat bidang yaitu berupa ekor, sayap, dan badan burung. Hiasannya menggunakan ikat hias atau pakan tambahan.

Kalambi

Berupa jaket yang dapat digunakan oleh pria maupun wanita. Hiasannya berupa ragam hias burung dan motif manusia sebagai simbol nenek moyang.
Kalambi digunakan pada saat perayaan upacara menyambut panen di ladang. Motif burung pada kalambi bermakna sebuah harapan agar para leluhur hadir pada perayaan panen tersebut.

Sirat

Adalah sebuah kain panjang yang digunakan sebagai pakaian dalam laki-laki. Selain itu juga digunakan sebagai selendang dan penutup sesaji pada perayaan upacara adat. Selain terbuat dari kain tenun ikat, sirat juga ada yang terbuat dari kulit kayu.
Keunikan-keunikan pada kain tenun ikat masyarakat Dayak dapat kita saksikan dengan cara mengunjungi langsung daerah penghasil kain ikat tersebut. Apabila belum memungkinkan, kita bisa melihat pakaian-pakaian tersebut di Anjungan Kalimantan Timur, Taman Mini Indonesia Indah.
Tentu saja keunikan dari kain tenun ikat tersebut lebih memikat apabila disaksikan atau dikenakan secara langsung, dibandingkan dengan hanya mengenalnya melalui artikel.