20
Feb 12

Kain Ikat : 3 Teknik yang Paling Umum

Kain Ikat : 3 Teknik yang Paling Umum

Ada beberapa teknik dalam pembuatan tenun ikat di dunia. Beruntungnya, Indonesia memiliki dan menguasai seluruh teknik tersebut.
Kemampuan bangsa Indonesia dalam menciptakan kain tenun ikat terlihat pada ragam hias setiap kain yang sudah jadi. Kemampuan ini dipelajari oleh bangsa Indonesia sejak zaman perunggu, yaitu abad 8 hingga abad 2 sebelum masehi.
Konsep ragam hias yang digunakan biasanya terinspirasi dari lingkungan alam sekitar. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa lingkungan dianggap sangat penting dalam kehidupan. Bahkan hewan dan tumbuhan dipercaya memiliki kekuatan magis.

Teknik-teknik dalam pembuatan kain ikat yaitu :

Teknik Ikat Lungsi

Teknik ini merupakan teknik yang paling awal digunakan. Pada abad 8, teknik tenun ikat lungsi telah dikenal di daerah pedalaman Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi. Daerah-daerah tersebut adalah daerah yang pertama kali mengembangkan teknik ini.
Di Tapanuli (Sumatera Selatan), teknik teun ikat lungsi diterapkan pada pembuatan ulos. Di Aceh, teknik ini ditemukan pada pembuatan kain tenun yang dikombinasi dengan ragam hias songket benang perak.
Daerah pedalaman dengan lokasi yang sulit dijangkau justru sangat menguntungkan karena daerah yang tidak mudah dicapai tersebut justru dapat mempertahankan tradisi-tradisi dan ragam hias serta penggunaan teknik tenun ikat lungsi.
Sedangkan ragam hias kain tenun ikat lungsi yang berasal dari Dayak, Toraja, Batak, dan Sumba terjaga keasliannya dan tidak terpengaruh oleh teknik dari luar karena pada zaman dahulu daerah-daerah tersebut bukan daerah penting yang banyak disinggahi para pedagang dari luar negeri.
Ciri-ciri penggunaan teknik kain tenun ikat lungsi yaitu banyak menggunakan corak yang dibuat oleh nenek moyang, seperti pohon hayat, perahu arwah, dan corak yang dianggap magis lainnya.

Teknik Ikat Pakan

Daerah-daerah yang menggunakan teknik tenun ikat pakan biasanya adalah daerah pantai. Awalnya, daerah yang dekat pantai seperti Aceh, Jawa, dan Nusa Tenggara Barat merupakan daerah yang ramai dikunjungi para pedagang dari India dan Cina. Mereka saling menukar barang dagangan dengan kain tenun ikat pakan.
Teknik kain tenun ikat pakan ini telah dikenal sejak zaman kerajaan Hindu, yaitu abad 4 Masehi dan terus berkembang hingga abad 14-15 Masehi, ketika Islam mulai masuk. Teknik tenun ikat pakan ini merupakan teknik baru yang dikenal setelah karena mendapat pengaruh dari luar. Dan daerah yang pertama kali mengenal teknik ini adalah daerah yang tidak tersentuh oleh teknik tenun ikat lungsi.
Para perajin kemudian menggabungkan teknik tenun ikat pakan ini dengan teknik songket benang emas, menghasilkan teknik yang disebut ragam hias pakan tambahan.
Ciri khas pada teknik tenun ikat pakan yaitu menggunakan corak motif flora seperti pucuk rebung. Motif ini merupakan lambang kesuburan.

Tenun Ikat Berganda

Tidak banyak daerah di Indonesia yang kain tenunnya dibuat menggunakan teknik tenun ikat berganda. Satu-satunya daerah yang menggunakan teknik ini adalah Tenganan, Karang Asem, Bali.
Kian tenun yang menggunakan teknik ini di Bali adalah kain gringsing. Kain ini terkenal karena keunikan dan kerumitan pada proses pembuatannya. Yang lebih mengagumkan, teknik yang digunakan oleh daerah terpencil ini diakui keindahannya oleh dunia internasional.
Di dunia, hanya ada tiga negara yang mengenal dan menguasai teknik kain tenun ikat berganda, yaitu Jepang, India, dan Indonesia.
Para ahli menyimpulkan, daerah Tenganan menguasai teknik tenun ikat berganda karena hubungan erat yang terjalin antara daerah ini dengan India. Hebatnya, masyarakat daerah Tenganan mampu membuat kain tenun ikat teknik berganda dengan hanya menggunakan teknologi tradisional.
Sayangnya, kelangkaan kain gringsing yang menggunakan teknik ikat berganda ini ? karena hanya digunakan pada upacara sakral? dan sulitnya proses pembuatannya, membuat kekhawatiran bahwa kain ini lama kelamaan akan punah.